Pesan singkat dari teman beberapa saat lalu menyisakan rasa perih. Ada yang memaksa saya mengakui hal yang tidak sebenarnya. Dan? Lalu? Tentu saja tak ada gunanya menjelaskan. Semoga perih ini hanya sebentar. Hal-hal bodoh semacam ini tak boleh menghentikan saya untuk merasa hidup.
Berjalan di antara gedung tinggi di malam hari selalu membuat saya merasa nyaman. Ialah menarik nafas panjang lega, sambil tersenyum dari kepala sampai kaki. Saya tidak tahu apakah ini sebuah momen yang tepat untuk merasakannya, apapun sebutannya. Karena setahu saya, beberapa bulan terakhir adalah masa yang buruk bagi karir saya. Tentu ini hanyalah pandangan sempit saya terhadap apa yang saya lihat, dalam koridor waktu tertentu. Bisa saja lima menit kemudian saya berubah pikiran. Well, walau nyatanya belum ada satu pandanganpun yang saya rubah. Maafkan baim ya Tuhan. Haha…
Malam ini gerimis menghiasi langit Jakarta. Sebenarnya saya punya kenangan pahit tentang suasana ini. Hem.. malam itu malam pertama ibu saya tampak sangat lemah. Saya menemaninya beberapa saat di rumah sakit. Hujan sangat deras, melegalkan suasana hati saya. Saat perjalanan pulang, saya melihat seluruh warna kota luruh bersama hujan. Dan sampai saat inipun masih tampak sama. Hujan adalah tanpa warna bagi saya. Tapi saya bisa menghadapinya, setidaknya untuk saat ini.
Perjalanan pulang adalah ruang efektif saya untuk berfikir. Terkadang bahkan terlalu efektif. Sampai sesekali saya sengaja berlama-lama di dalamnya. Hanya untuk memikirkan hal-hal detil atau menelaah pertanyaan-pertanyaan spontan yang bisa atau tidak bisa saya jawab. Lalu berlanjut ke pertanyaan atau sanggahan lain yang berkaitan, atau tidak. Pertanyaan paling konyol dan paling sering saya pikirkan adalah “bolehkah saya pulang melewati jalan lain?”. Padahal saya tahu tak ada jalan lain. Hal itu cukup mengganggu saya.
Sambil berjinjit di atas genangan-air-sialan, sekilas terpikir beberapa kejadian belakangan ini. Apapun yang saya kerjakan selalu tidak memuaskan, setidaknya bagi saya. Persetan dengan kutukan, hukuman dan sebagainya. Saya sudah tahu jawaban dari pertanyaan “mengapa ini bisa terjadi?” dan sedang berusaha menyelesaikannya dengan cara yang semoga saja tidak menyakiti siapapun. Jam terus berdetik, dan kehabisan waktu adalah konsekuensi dari bermain lembut seperti yang sedang saya lakukan. Well, dalam kurun waktu itu katakanlah saya masih mendekam di lubang yang sama. Sangat tergoda memang memikirkan ketertinggalan dan membuat parameter kesuksesan versi dunia. Tapi saya rasa membandingkan diri dengan orang lain jelas tidak adil, untuk siapapun. Yang perlu saya lakukan adalah berusaha lagi. Lelah? Memang. Tak akan jadi manusia jika tanpa rasa lelah.
Menarik nafas sebentar, menghentikan langkah dan menikmati cemilan pinggir jalan, saya menemukan teman lama. Iringan pawai anak berbaju menjuntai dengan ukiran rumit dan mickey berkepala mawar. Mereka selalu muncul di saat yang tepat. Saat saya butuh momentum untuk bergerak dari fase bertahan. Lalu saya sadar, saya memang tak bisa menemukan jalan lain untuk pulang. Tapi saya bisa melakukannya dengan cara yang berbeda. Yang diperlukan hanyalah sejumput imajinasi.
08-05-12











